Pembelajaran Mendalam deep learning pdf

Table of Contents

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada Satuan Pendidikan: Konsep, Implementasi, dan Peran Guru 


1. Pengantar: Mengapa Pembelajaran Mendalam Penting?

Isu kualitas pendidikan Indonesia tidak lagi cukup dijawab dengan perubahan kurikulum semata. Di tengah tuntutan abad ke-21, sekolah dituntut melahirkan peserta didik yang beriman, bertakwa, cerdas, berkarakter, dan produktif. Di sinilah konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada satuan pendidikan menjadi sangat relevan.

Gagasan ini diperkaya oleh pemikiran Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA (UPI) dalam Seminar Nasional “Peran Deep Learning dalam Pengembangan Kurikulum pada Satuan Pendidikan” yang diselenggarakan Prodi PPG FKIP Universitas Sebelas Maret, Solo, 20 Desember 2024. Pembelajaran mendalam ditawarkan sebagai pendekatan yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful), bukan sekadar pengganti kurikulum.

Artikel ini mengulas secara sistematis:

  • Apa itu Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di sekolah

  • Landasan ilmiahnya (Meaningful, Mindful, dan Joyful Learning)

  • Posisi dalam Kurikulum Merdeka dan Standar Nasional Pendidikan

  • Strategi implementasi di intra, ko, dan ekstra kurikuler

  • Peran guru, PPG, dan sekolah menuju Sekolah 4.0 dan Masyarakat 5.0

Fokus kata kunci utama: pembelajaran mendalam, deep learning di satuan pendidikan, Kurikulum Merdeka, dan guru abad 21.


2. Apa Itu Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Satuan Pendidikan?

Secara sederhana, Pembelajaran Mendalam (PM) adalah:

Pendekatan pembelajaran yang menekankan pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dan penerapannya dalam konteks dunia nyata (real life), dengan prinsip pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Beberapa poin penting:

  1. Bukan sebuah kurikulum baru
    Pembelajaran Mendalam bukan “Kurikulum Deep Learning”, tetapi cara mengajar dan cara belajar yang bisa diterapkan pada kurikulum apa pun, termasuk Kurikulum Merdeka.

  2. Bukan pendekatan yang benar-benar baru
    Sejak 1970-an, Indonesia telah mengenal berbagai pendekatan:

    • CBSA

    • PAKEM / PAIKEM

    • Pembelajaran Berbasis Proyek

    • Hingga pendekatan P5-KM

    Namun, berbagai pendekatan ini masih menghadapi kendala konsep maupun implementasi. Deep Learning hadir sebagai pelengkap (complementary), bukan pengganti.

  3. Ciri utama Pembelajaran Mendalam

    • Berpusat pada peserta didik (student-centered)

    • Menumbuhkan HOTS (menganalisis, mengevaluasi, mencipta)

    • Menghubungkan materi dengan situasi nyata peserta didik

    • Memadukan human touch (cinta, empati) dan technological touch (teknologi, digital)

    • Mendukung terciptanya Satuan Pendidikan Ramah Anak

Dengan demikian, deep learning di sekolah bukan sekadar buat “keren-kerenan istilah”, tetapi mengubah pola dari hafalan dangkal menjadi pemahaman mendalam yang membentuk karakter dan kompetensi.


3. Landasan Konseptual: Meaningful, Mindful, dan Joyful Learning

3.1. Meaningful Learning (Ausubel)

Merujuk pada David Paul Ausubel, pembelajaran bermakna terjadi ketika:

  • Pengetahuan baru dihubungkan dengan konsep yang sudah dimiliki peserta didik.

  • Materi pelajaran relevan dengan struktur kognitif yang ada dalam diri siswa.

Intinya, meaningful learning menghindari pembelajaran yang hanya “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”. Guru tidak sekadar menyampaikan, tetapi:

  • Mengaktifkan pengetahuan awal (apersepsi yang benar-benar hidup)

  • Menggunakan contoh dan konteks yang dekat dengan pengalaman siswa

  • Membantu siswa menyusun peta konsep, rangkuman, atau advance organizer

3.2. Mindful Learning (Craig & Chamber, ATESL, dsb.)

Mindful Learning adalah pembelajaran yang berkesadaran, ditandai dengan:

  • Acceptance (penerimaan): menerima perbedaan kemampuan dan latar belakang siswa

  • Compassion (belas kasih): guru mengajar dengan empati, bukan sekadar memenuhi administrasi

  • Openness & Curiosity: kelas membuka ruang rasa ingin tahu, diskusi, dan keberanian bertanya

Dalam konteks sekolah, mindful learning berarti:

  • Guru hadir secara utuh bersama siswa, bukan hanya hadir fisik

  • Ada dialog pedagogik yang terbuka, saling menghargai

  • Kelas menjadi ruang aman untuk salah, mencoba, dan memperbaiki

3.3. Joyful Learning dan Sekolah Ramah Anak

Joyful Learning bukan berarti kelas selalu harus heboh, tetapi:

  • Suasana belajar menyenangkan secara fisik, sosial, dan budaya

  • Aktivitas belajar variatif: diskusi, proyek, eksperimen, permainan edukatif

  • Siswa merasa dihargai, terlibat, dan punya suara

Ketika meaningful, mindful, dan joyful learning berpadu, sekolah bergerak menuju:

Satuan Pendidikan Ramah Anak – tempat belajar yang aman, inklusif, penuh cinta, dan tetap menantang secara intelektual.


4. Pedagogy of Love: Dimensi Hati dalam Deep Learning

Salah satu pondasi penting deep learning adalah gagasan Pedagogy of Love (UNESCO, 2014). Intinya:

  • Pendidikan tidak hanya mengolah pikiran, tetapi juga hati dan emosi.

  • Integrasi:

    • Kecerdasan emosional

    • Empati

    • Pedagogi cinta (pedagogy of love)

Terdapat siklus:

Attitude → Emotion → Action

Artinya:

  • Sikap penuh kasih dan kepedulian guru →

  • Melahirkan suasana emosional yang positif di kelas →

  • Berujung pada tindakan nyata yang menyentuh kehidupan peserta didik.

Sekolah dan guru (kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan) menjadi pusat “Kaizen of Love”: pembaruan kecil namun konsisten dalam cara memperlakukan peserta didik dengan hormat, cinta, dan keadilan.


5. Posisi Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka dan Standar Nasional Pendidikan

5.1. Kaitan dengan Standar Nasional Pendidikan

Dalam kerangka Standar Nasional Pendidikan (masukan, proses, dan luaran), deep learning memberi warna pada:

  • Standar Luaran (Output): Kompetensi lulusan yang tidak hanya kognitif, tetapi juga karakter dan spiritual.

  • Standar Proses: Proses pembelajaran interaktif, inspiratif, dan menantang HOTS.

  • Standar Penilaian: Asesmen autentik, portofolio, proyek, dan refleksi.

Pertanyaannya: “Dimana Deep Learning?”
Jawabannya: Deep Learning menyatu di:

  • Tujuan/Profil lulusan

  • Kompetensi & konten

  • Strategi penyampaian pembelajaran (delivery system)

  • Sistem asesmen

5.2. Langkah Implementasi dalam Kurikulum Merdeka

Empat langkah penting:

  1. Memahami garis besar Kurikulum Merdeka

    • Regulasi terkini

    • Kajian akademik pemulihan pembelajaran

  2. Memahami pembelajaran dan asesmen

    • Prinsip pembelajaran dan asesmen

    • Tahapan perkembangan peserta didik

    • Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

    • Pengolahan & pelaporan hasil asesmen

  3. Mengembangkan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP)

    • Analisis karakteristik sekolah

    • Menyusun visi, misi, tujuan

    • Pengorganisasian pembelajaran

  4. Mengembangkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)

    • Mendesain projek

    • Mengelola projek

    • Mengases dan menindaklanjuti hasil projek

Deep Learning memberi roh pada Kurikulum Merdeka, sehingga:

  • Intra Kurikuler tidak kering

  • Ko-Kurikuler (P5) tidak hanya formalitas

  • Ekstra Kurikuler menjadi ruang hidup pembentukan karakter dan kompetensi.


6. Strategi Implementasi Deep Learning: Intra, Ko, dan Ekstra Kurikuler

Deep Learning yang diusulkan di tingkat satuan pendidikan bisa dipetakan sebagai berikut:

6.1. Intra Kurikuler

Contoh praktik:

  • Diskusi berbasis kasus nyata (case-based learning)

  • Proyek kecil dalam mata pelajaran (misalnya IPA, IPS, Bahasa)

  • Tugas yang menuntut analisis, evaluasi, dan kreasi (HOTS)

  • Penggunaan teknologi untuk eksplorasi konsep (video, simulasi, aplikasi)

6.2. Ko-Kurikuler (P5)

Contoh:

  • Projek lingkungan hidup (pengelolaan sampah, konservasi air)

  • Projek kewirausahaan sosial

  • Projek budaya lokal (mendokumentasikan tradisi, seni, dan kearifan lokal)

Deep Learning terlihat ketika siswa:

  • Mengamati → Menganalisis → Merancang solusi → Melakukan aksi → Merefleksi

6.3. Ekstra Kurikuler

Contoh:

  • Organisasi siswa, pramuka, seni, olahraga

  • Klub sains, klub literasi, klub coding, dll.

Di sini, deep learning hadir dalam bentuk:

  • Pengalaman langsung memimpin, berkolaborasi, dan mengambil keputusan

  • Pembentukan karakter: disiplin, tanggung jawab, dan integritas


7. Student Center, HOTS, dan Sentuhan Teknologi-Humanis

Deep Learning yang ideal mengandung beberapa kata kunci:

  • Student Center: peserta didik aktor utama

  • Fleksibel: adaptif terhadap konteks dan kebutuhan

  • Terpadu: intra, ko, dan ekstra berjalan sinergis

  • HOTS: menantang kemampuan berpikir tingkat tinggi

  • Technological Touch: memanfaatkan teknologi secara bijak

  • Human Touch: cinta, empati, teladan dari guru

Guru perlu menyeimbangkan:

Human Touch (Love) × Technological Touch (Digital)

Agar sekolah tidak jatuh pada dua ekstrem: terlalu teknologis tetapi dingin, atau terlalu humanis tetapi gagap teknologi.


8. Peran Guru Abad 21 dan PPG dalam Deep Learning

Mengutip Barber dan Mourshed (2007):

“The quality of an educational system cannot exceed the quality of its teachers.”
Kualitas sistem pendidikan tak akan melebihi kualitas gurunya.

Dalam konteks Pembelajaran Mendalam, guru ideal adalah:

  1. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila
    Menjadi teladan dalam integritas, keadilan, dan gotong royong.

  2. Berkkompeten
    Menguasai:

    • Kompetensi pedagogik

    • Kompetensi profesional

    • Kompetensi sosial dan kepribadian

  3. Pembelajar Sepanjang Hayat
    Guru terus belajar, terbuka terhadap inovasi, teknologi, dan refleksi diri.

  4. Berkomitmen menjadi teladan
    Bukan hanya mengajar materi, tetapi menjadi figur yang memberi inspirasi.

Karena itu, wajar bila Deep Learning diusulkan menjadi mata kuliah selektif/elektif di PPG dan LPTK, agar calon guru:

  • Memahami konsep

  • Mampu merancang RPP/Modul ajar berorientasi pembelajaran mendalam

  • Terampil mengintegrasikan mindful, meaningful, dan joyful learning di kelas.


9. Deep Learning menuju Sekolah 4.0 dan Masyarakat 5.0

Visi akhirnya adalah:

  • Sekolah 4.0: sekolah yang cerdas, adaptif, memanfaatkan teknologi

  • Masyarakat 5.0: masyarakat yang menempatkan manusia sebagai pusat, teknologi sebagai alat

Deep Learning berkontribusi dengan cara:

  1. Membangun SDM unggul dan bermartabat
    Tidak hanya pintar, tetapi berkarakter dan spiritual.

  2. Mengintegrasikan pembelajaran bermakna dan menyenangkan
    Intra, ko, dan ekstra kurikuler bukan entitas terpisah, tetapi jejaring pengalaman belajar.

  3. Menjaga keberlanjutan pendidikan (lifelong learning)
    Siswa dibiasakan berpikir kritis, reflektif, dan adaptif sehingga siap menghadapi perubahan.


10. Tips Praktis Menerapkan Pembelajaran Mendalam di Sekolah

Agar artikel ini tidak berhenti pada tataran teori, berikut checklist praktis untuk guru dan sekolah:

  1. Mulai dari satu mata pelajaran atau satu kelas dulu
    Jangan menunggu sempurna untuk memulai.

  2. Rancang satu unit pembelajaran dengan HOTS dan proyek mini

    • Gunakan masalah nyata dari lingkungan sekitar siswa.

    • Dorong siswa mencari data, menganalisis, dan mempresentasikan solusi.

  3. Bangun budaya kelas mindful

    • Awali pelajaran dengan “check-in” singkat (perasaan/harapan hari ini).

    • Hargai pertanyaan dan pendapat siswa.

  4. Sisipi unsur joyful tanpa mengorbankan kedalaman materi

    • Permainan edukatif, simulasi, role play, debat terstruktur.

  5. Gunakan asesmen autentik

    • Portofolio, jurnal refleksi, produk proyek, dan presentasi.

  6. Libatkan kepala sekolah dan rekan guru

    • Deep learning lebih kuat jika menjadi budaya sekolah, bukan kerja sendirian.


11. FAQ Singkat tentang Deep Learning di Satuan Pendidikan

1. Apakah Pembelajaran Mendalam sama dengan “deep learning” dalam kecerdasan buatan (AI)?
Tidak. Di sini, deep learning merujuk pada pendekatan pedagogis yang menekankan kedalaman pemahaman, bukan algoritma komputasi.

2. Apakah sekolah harus mengganti total Kurikulum Merdeka dengan Deep Learning?
Tidak. Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang justru menguatkan implementasi Kurikulum Merdeka.

3. Apakah Pembelajaran Mendalam hanya untuk sekolah unggulan?
Tidak. Prinsip-prinsip meaningful, mindful, dan joyful learning dapat diterapkan di semua satuan pendidikan, dengan penyesuaian konteks.

4. Seberapa penting peran guru PPG dan LPTK?
Sangat penting. Tanpa guru yang memahami dan menghayati konsep Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Merdeka dan berbagai regulasi hanya akan berhenti di dokumen.

untuk file Pembelajaran Mendalam deep learning pdf (unduh disini)